Aku Di Lamar

Jantungku berdetak kencang sekali, telapak tangan dingin, gak bisa diem, semua campur aduk. Hari itu Jumat, bada Ashar dia beserta keluarga akan datang untuk melamarku. Muka ku gak bisa dikondisikan, tegang, senang, takut, gelisah semua jadi satu. Momen ini datang juga, rasanya seperti mimpi, mimpipun gak pernah sih, jadi rasanya nano-nano.

Ini aku tuliskan sebagai manifestasi bahwa satu momen penting dalam sebuah hubungan telah dilalui. Gak ada ekspektasi besar ketika bertemu dengannya, karena serangkaian kegagalan yang telah dilalui jadi membuat diri ini berfikir, ya... mungkin ini juga sebatas pertemuan biasa.

Kita dipertemukan, seperti biasa teman ku bertanya via whatsapp (bayangkan saja ini jadi sebuah kebiasaan) mau gak berkenalan dengan laki-laki yang sedang mencari jodoh, disertakanlah fotonya beserta keluarga. Gak ada rasa apa-apa, ekspektasi apapun, ya aku jawab saja "boleh saja...". Long story short, kita janjian ketemuan di cafe, karena hari itu aku masih ada kerjaan jadi beres kerjaan baru kesana. Aku ditemani adikku yang kebetulan kerja bareng sama temenku tadi. Dia beserta adik dan iparnya yang kenalan temenku, sama 2 keponakan.

Pertemuan pertama

Sudut cafe itu jadi saksi, dia pakai masker dan belum dibuka ketika kita sampai. Aku ambil tempat duduk di samping kanannya dia, Mulai dari jabat tangan dan kenalan sambil kenalan keluarga masing-masing. Semua mengalir saja, awalnya dia diam sampai diajak bicara, ditanyakan pekerjaannya apa. Aku pun tertarik dengan pekerjaannya, karena dia mengelola franchise primagama di Jakarta, sekaligus jadi guru privat juga untuk pelajaran science. Dia dengan senang hati menjawab pertanyaan ku, diskusi mengalir saja, karena dia kesini ketika liburan sekaligus lihat keponakan dan kebun yang dia punya.

Jadi kesan pertama, dia seseorang yang dewasa dan mapan. Menjawab lugas dan detail ketika ditanyakan, dia seseorang yang pintar dan serius. Aku gak tau, apa tanggapannya tentangku. Sepulang dari sana, temenku nanya gimana, aku sih kesan pertama baik. Dibandingkan dengan beberapa pria yang kutemui sebelumnya, kesan pertamanya sangat baik. Tetapi, sekali lagi aku gak ada ekspektasi apapun. iya itu tadi keseringan gagal jadi gak mau mikir ketinggian.

Setelah pertemuan

Setelah pertemuan pertama, kita gak berkabar tapi setauku dia balik ke Jakarta lagi. Kita gak tukeran no handphone juga. Selang berapa hari kemudian adiknya berkabar dan ingin bertemu, adiknya menyampaikan bahwa dia memberikan kesan positif setelah pertemuan pertama. Dia ingin melanjutkan hubungan ini, tetapi banyak hal yang dia fikirkan. Mulai dari tinggal dimana, pekerjaannya, orang tuanya, kapan acaranya, dan meminta waktu ku untuk bersabar karena tidak bisa dalam waktu dekat. 

Jujur... lagi-lagi ini diluar ekspektasiku, aku hanya menjawab, dijalani saja dan aku tidak sedang dikejar apa-apa jadi ya gak perlu buru-buru. Ternyata fikiran pria ini berbeda memang, sampai tahap mungkin dia selesai memikirkan semua hal, baru kemudian dia menghubungiku via Whatsapp. Oh iya, dia pulang ke rumah orang tuaya untuk menanyakan pendapat. Dan ketika ngabarin pertamakali, dia kasih poto jalanan rumanya di Jogja. Menarik bukan... hahahaha

Komunikasi kami terjalin via chat, gap umur yang berjarak 9 tahun cukup membuatku berfikir keras tentang pola komunkasi yang benar-benar beda. Masalah komunikasi adalah hal utama yang ku permasalahkan dan juga telah disampaikan ke pihak keluarga. Mendengar penjelasan dr. Aisyah Dahlan terlepas pro dan kontra tentang karakteristik laki-laki, akhirnya semua hal yang dikehendaki disampaikan langsung. Ya... pasti ada pergolakan emosi baik darinya ataupun aku, akupun sebenarnya nothing to lose saja menyampaikan, kalau memang tidak bisa atau ada titik temu ya selesai.

Namun, benarlah pendapat yang mengatakan laki-laki adalah penentu setiap hubungan. Karena wanita gak bisa memaksa dan tau kapasitasnya bukan?. Satu kata yang meyakinkanku ketika aku mengeluh,  "aku harus bagaimana?", katanya. Rasanya untuk seorang pria kategori dewasa sudah punya keteguhan sendiri, dia tidak antipati untuk mendengar keluhan dan berusaha agar hubungan ini terjadi. Aku fikir, sepertinya kata-kata itu membuatku membuka hati, kata-kata itu adalah kunci untuk gembok hati yang hampir karatan ini. 

Dia datang berkunjung 2 kali ke rumah untuk meyakinkan dan jika ada yang harus dibahas, ya... memang diusia ini pembahasan akan lebih ke masa depan akan seperti apa. Selama proses inipun aku gak berhenti berdoa meminta petunjuk dan kelapangan hati, prosesnya memang lancar dan dipermudah, gak ada drama, kecuali pembahasan visi dan keinginan diri sendiri.  

Hingga hari ini datang, dia membawa serta keluarganya kerumah. Menyatakan keseriusannya menuju ke jenjang pernikahan. Rasanya memang seperti mimpi, akupun menyatakan "Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahiim dan restu dari ibu, insyalllah lamaran mas diterima dengan baik". Tenggorokanku sempat tercekat mengucapkan restu dari ibu, sumpah... ini momen yang sulit diungkapkan. Ah... sampai juga dimasa dan rasa ini.

Perjalanan menuju akad masih harus dijalani, tentunya persiapan yang dilakukan jauh lebih besar karena memutuskan untuk pindah dari Jakarta dan tinggal disini. Semoga Allah meridhoi dan meringankan langkah kaki kami, hingga ikrar janji suci itu diucapkan. Aku percaya takdir Allah, jika ini baik untukku Allah akan berikan sebaik-baiknya, jika bukan ini jalannya maka Allah akan tunjukan dengan caranya.

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Operasi Sinusitis dan Konka Hipertropi

Koleksi Soal UKK 2017 - 2021

Proposal PTK Ubah Judul - PPG (TINGKAT KEAKTIFAN DAN PEMAHAMAN SISWA PADA PEMBELAJARAN JARAK JAUH)