Posts

Menyadari Luka

Image
Memilih untuk menjadi diri sendiri tidak serta merta menyelesaikan segala hal, ada berbagai peristiwa hidup yang tetap harus dijalani. Belakangan aku paham, kalau semuanya mungkin memang harus dilewati jika ingin bertumbuh. Ketika masuk usia akhir dua puluhan, pernikahan mulai dipikirkan dengan serius. Sebelumnya aku hanya sibuk  berjuang, bekerja dan menjalani hidup saja. Pernikahan terasa seperti sesuatu yang masih jauh. Ada masa aku pernah bertemu seseorang yang membuatku berfikir mungkin ini orangnya. Kami bicara banyak hal, satu frekuensi jadi ngobrol nyambung. Keluarga juga sempat saling mengenal, dan membahas rencana pernikahan. Namun, semuanya berakhir tanpa kejelasan. Beberapa waktu kemudian, aku menerima undangan pernikahan dari seorang teman. Saat melihat nama dan foto mempelai pria, aku terpaku dan diam cukup lama. Ternyata laki-laki yang bicara tentang pernikahan denganku kemarin adalah orang yang akan menikah dengannya. Setelah diusut ternyata dia melakukan itu ke beb...

Tentang Kebisaan dan Pandangan Orang Lain

Image
Banyak hal yang terjadi ketika melewati masa kecil, remaja dan beranjak dewasa. Kehilangan Bapak mungkin jadi salah satu alasan kenapa anak kecil yang beranjak remaja ini belajar untuk tidak terlalu menyusahkan orang lain. Perlahan, itu menjadi kebiasaan yang terbawa hingga dewasa. Rasanya, setiap remaja pasti punya banyak keinginan. Tapi, karena cukup sadar dengan kondisi ekonomi, ketika punya keinginan biasanya dipikirkan berkali-kali sebelum disampaikan ke ibu. Dan kalau ada masalah di luar, sebisa mungkin  menyelesaikannya sendiri agar tidak menambah beban di rumah.  Tanpa sadar, kebiasaan itu membentukku menjadi seorang yang sangat mandiri, dan jarang minta bantuan ke orang lain, sungkan lebih tepatnya.  Mungkin faktor itulah yang membuatku terbiasa memikirkan banyak hal sendiri. Jadi ketika menjalani hubungan, cenderung lebih tenang dan realistis. Tidak terlalu banyak berekspektasi atau terlarut dalam perasaan. Walaupun pada akhirnya, ada ujian juga disana. Tentang ...

Luka Masa Kecil

Image
Aku tumbuh bersama empat saudara perempuanku dan seorang ibu yang tangguh, bahkan nama grup keluarga kami Wonder Woman. Sempat kami berunding untuk mengganti nama ini, karena kesannya kami terlalu tangguh, namun urung. Mungkin secara gak sadar kami hidup dengan cara itu Peran laki-laki dalam hidup kami sangat sedikit bahkan hampir tidak terasa. Bapakku berpulang ketika aku masih 12 tahun, dan momen kepergiannya masih  sangat melekat diingatan karena aku menyaksikan sendiri bagaimana ketika beliau sakit hingga berpulang. Aku anak ke 2 dari 5 bersaudara perempuan, jadi ketika ditinggal kami masih kecil. Bapak kerja di Pertamina, gak tau bagian apa tapi ibu cerita beliau yang membersihkan tangki pertamina yang bulat besar itu. Selain itu, bapak juga ngelimbang timah, kami sering bantu dulu kalau liburan. Kami main ke “ wasre ” bantu bapak ambil tanah dan siram air ke sakan untuk dapat timah. Yang ku ingat Bapak juga sering antar kita naik sepeda ontel ke sekolah, atau jalan-jalan ke...

Kenapa aku cerita ini?

Image
Jodoh bukanlah urusan sederhana. Perjalanan menuju satu kata itu panjang dan berliku, bahkan ketika sudah sampai di jenjang pernikahan pun, pembuktian itu rasanya belum benar-benar selesai. Sekarang usiaku menjelang 38 tahun dan aku  ingin menceritakan bagaimana sampai di titik ini. Sebagai kenangan untuk diriku sendiri, juga sebagai teman bagi perempuan yang sedang menempuh perjalanan yang sama. Tulisan ini dibuat bukan karena pernikahan adalah akhir dari segalanya. Justru karena perjalanan menuju titik ini terasa begitu panjang, rumit, dan mengubah banyak hal dalam diriku.  Selama ini aku mudah sekali mengapresiasi perjuangan orang lain, tetapi jarang berhenti untuk melihat diriku sendiri. Ternyata ada begitu banyak hal yang sudah kulewati untuk sampai di tahap ini. Mungkin dari tulisan ini adalah salah satu caraku mengingat semuanya. Tentang kehilangan, ketakutan, harapan, luka, dan bagaimana semua itu perlahan membentuk cara pandangku tentang hubungan manusia dan kehidupan...

Aku Di Lamar

Jantungku berdetak kencang sekali, telapak tangan dingin, gak bisa diem, semua campur aduk. Hari itu Jumat, bada Ashar dia beserta keluarga akan datang untuk melamarku. Muka ku gak bisa dikondisikan, tegang, senang, takut, gelisah semua jadi satu. Momen ini datang juga, rasanya seperti mimpi, mimpipun gak pernah sih, jadi rasanya nano-nano. Ini aku tuliskan sebagai manifestasi bahwa satu momen penting dalam sebuah hubungan telah dilalui. Gak ada ekspektasi besar ketika bertemu dengannya, karena serangkaian kegagalan yang telah dilalui jadi membuat diri ini berfikir, ya... mungkin ini juga sebatas pertemuan biasa. Kita dipertemukan, seperti biasa teman ku bertanya via whatsapp (bayangkan saja ini jadi sebuah kebiasaan) mau gak berkenalan dengan laki-laki yang sedang mencari jodoh, disertakanlah fotonya beserta keluarga. Gak ada rasa apa-apa, ekspektasi apapun, ya aku jawab saja "boleh saja...". Long story short, kita janjian ketemuan di cafe, karena hari itu aku masih ada kerj...

Tuhan kirimkan aku cinta

 Rasanya waktu berjalan begitu cepat, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan hingga tahun. Semua berlalu, umur, hubungan dengan manusia, sampai dengan hubungan dengan Tuhan. Aku percaya Tuhan itu ada, dan dia yang mengatur seluruh isi semesta. Usia di hitungan manusia sudah masuk kategori dewasa, dimana setiap kehidupan akan selalu dikomentari, begitupun halnya aku yang juga hidup selalu dikomentari oleh orang lain bahkan diri sendiri. Apa yang sudah aku capai, apa yang akan aku lakukan nantinya, apa harapanku. Hela nafas panjangku... tanda aku lelah dengan semua yang ada dalam pikiranku. Aku begitu penasaran kenapa orang begitu tentang cinta terhadap lawan jenis, karena aku sampai dengan saat ini masih belum pernah merasakan hal itu. Apa aku tidak bisa jatuh cinta? Apa hatiku begitu kaku dan mati untuk seorang laki-laki, sehingga sulit bagiku untuk memulai sebuah hubungan? Apa yang salah dengan diriku sendiri? Kenapa aku tidak merasakan,...

Aktivis Muda Seantero Indonesia Bersatu Gencarkan Literasi Digital Melalui JaWAra Internet Sehat Bersama WhatsApp dan ICT Watch

Image
Jakarta, 16 Agustus 2021 - WhatsApp dan ICT Watch melanjutkan kolaborasinya dalam menggencarkan literasi digital di Indonesia melalui JaWAra Internet Sehat, gerakan edukasi akar rumput oleh anak muda di 28 provinsi Indonesia. Program ini dibangun menyusul tingginya jumlah peredaran hoaks dan berbagai isu terkait literasi digital di tengah pandemi COVID-19 di Indonesia. Di masa pandemi ini, hoaks bisa berakibat fatal, contohnya banyak orang yang mempercayai berita bohong yang beredar di platform digital sehingga enggan untuk divaksinasi dan menjadi rentan terpapar ataupun mengalami sakit parah jika terinfeksi virus COVID-19. Pada saat yang sama, masih ada kesenjangan literasi digital yang mencolok antar-generasi dan provinsi. Umumnya, anak muda lebih paham tentang dunia digital dibanding orang tua. Program JaWAra Internet Sehat diharapkan dapat berperan penting dengan menginisiasi dan melibatkan para aktivis muda di seantero Indonesia. Manajer Program ICT Watch Indriyatno Banyumu...