Grup whatsapp Wonder Woman
Aku tumbuh bersama empat saudara perempuanku dan seorang ibu yang tangguh, bahkan nama grup keluarga kami Wonder Woman. Sempat kami berunding untuk mengganti nama ini, karena kesannya kami terlalu tangguh, namun urung. Mungkin secara gak sadar kami hidup dengan cara itu
Peran laki-laki dalam hidup kami sangat sedikit bahkan hampir tidak terasa. Bapakku berpulang ketika aku masih 12 tahun, dan momen kepergiannya masih sangat melekat diingatan karena aku menyaksikan sendiri bagaimana ketika beliau sakit hingga berpulang.
Aku anak ke 2 dari 5 bersaudara perempuan, jadi ketika ditinggal kami masih kecil. Bapak kerja di Pertamina, gak tau bagian apa tapi ibu cerita beliau yang membersihkan tangki pertamina yang bulat besar itu. Selain itu, bapak juga ngelimbang timah, kami sering bantu dulu kalau liburan. Kami main ke “wasre” bantu bapak ambil tanah dan siram air ke sakan untuk dapat timah. Yang ku ingat Bapak juga sering antar kita naik sepeda ontel ke sekolah, atau jalan-jalan ke alun-alun habis rapot semesteran buat beli es krim, sesederhana itu tapi melekat sampai sekarang.
Ibu pernah bercerita kalau pekerjaan bapak mungkin jadi salah satu penyebab sakitnya, karena panas tangki minyak itu memengaruhi kondisi fisiknya. Setelah dewasa baru aku tau bapak ada darah tinggi.
Dimataku, Ibu wanita yang sangat tangguh. Ibu hampir gak pernah menunjukkan kesedihannya di depan anak-anaknya. Ketika bapak meninggal ibu tidak menunjukkan sisi rapuhnya. tapi ingatan ku ada kaca lemari kamar pecah, yang kemudian aku tau dari bibi itu karena ibu. Entah apa yang ibu rasakan saat itu, ditinggal pergi suami dengan empat anak perempuan yang masih kecil.
Pernikahan kedua ibu mungkin seusiaku sekarang, dan melahirkan adik bungsu kami. Walaupun pada akhirnya ibu harus sendiri lagi dan menanggung kehidupan lima anaknya. Dengan kondisi yang ada, mungkin alam bawah sadarku dan saudara perempuan lainnya bertekad untuk “berusaha tidak menyusahkan ibu”.
kakak ku sudah mulai bekerja sejak SMA lalu merantau ke Batam. Aku diminta untuk tetap lanjut sekolah, karena secara akademik cukup mampu. Namun, kegagalan SPMB di Bandung membuatku mengurungkan niat untuk kuliah di luar. Tapi sekarang justru itu aku syukuri, karena gak terbayang beban ekonomi yang ditanggung ibu dan kakakku.
Kami hidup dengan perjuangan dan tentu luka, walaupun dulu belum menyadari kalau ini yang disebut luka masa kecil. Semua hidup mandiri dengan cara masing-masing, tetapi dengan satu tekad yang sama. Suatu ketika luka yang sudah lama dipendam akhirnya pecah dan membuat pertengkaran di rumah, itu momen yang menyedihkan sekaligus melegakan. Karena setelahnya, kami menjadi lebih dekat.

Comments
Post a Comment