Antara Ikhtiar dan Kepasrahan



Aku sempat berpikir, mungkin pernikahan memang bukan untukku. Tidak semua orang menikah, pikirku. Jadi aku menjalani hari-hari dengan santai. Aku bekerja dengan versi terbaik diriku. Entah bagaimana, berbagai kesempatan dan peluang datang. Aku dipercaya bekerja dalam berbagai kegiatan, baik di tingkat lokal maupun nasional. Perlahan, hidup terasa baik. Tidak sempurna, tetapi cukup untuk membuatku bersyukur.

Namun, bukan hidup namanya jika tidak ada ujian.

Ketika semuanya terasa nyaman, ujian itu datang dari tempat yang tidak pernah kuduga. Dari lingkungan kerja. Tempat yang selama ini kupercaya dan tempat yang paling banyak menerima waktu, tenaga, dan pikiranku. Seketika semuanya berubah menjadi salah paham. Prestasi yang sebelumnya dirayakan berubah menjadi kompetisi yang menyakitkan. Aku mulai melihat sisi lain dari hubungan kerja yang selama ini kuanggap baik-baik saja.

Ada teman yang berubah menjadi lawan, rekan kerja yang memilih diam, pimpinan yang tidak cukup mampu menunjukkan kebijaksanaan. Bahkan serangan secara pribadi bertubi-tubi dilakukan. 

Aku masih ingat salah satu kalimat yang diucapkan kepadaku saat itu, “jadi wanita jangan terlalu pintar, nanti laki-laki susah mau”. Padahal yang sedang dibahas adalah kebijakan dan keputusan yang diambil. Saat itu kusadari, ketika seseorang tidak lagi mampu berargumen pada substansi persoalan, serangan seringkali diarahkan pada pribadi orangnya. 

Untuk pertama kalinya, aku merasakan bagaimana rasanya dikhianati oleh banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Jujur saja serangan personal yang kemarin aku dapatkan mulai menemukan ruang di dalam kepalaku. Secara perlahan aku mulai menciutkan diriku sendiri. Lebih berhati-hati ketika bicara atau menyampaikan pendapat, bahkan aku berfikir, mungkin kalimat yang mereka ucapkan memang ada benarnya. 

Kembali kuputuskan melakukan perjalanan, kali ini ada kegiatan nasional di Semarang. Berkumpul dengan teman-teman dari berbagai kalangan mengingatkanku kembali pada rencana lama yang sempat tertunda untuk melanjutkan studi. 

Rencana itu pernah ada, aku sempat serius mempersiapkan diri untuk beasiswa ke Luar Negeri. Tetapi perlahan tergeser karena kesibukan, rutinitas, dan rasa nyaman dengan hidup yang sedang kujalani.

Dalam Perjalanan yang panjang itu, aku kembali berdiskusi dengan diriku sendiri. mempertanyakan mengapa Allah mengujiku dengan cara seperti ini? 

Aku juga berdiskusi dengan salah satu senior yang pernah menjadi dosenku. Menurutnya, aku mulai terlena dengan apa yang sudah kudapatkan saat ini.

Dari hasil diskusi dengan diri sendiri dan orang lain, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan studi pascasarjana. Aku juga mulai merumuskan ulang hidup yang selama ini kujalani. 

Selama ini aku selalu berusaha memberikan yang terbaik, bekerja sebaik mungkin, dan bermanfaat bagi orang lain. Namun, semua itu membawaku ke beberapa pertanyaan hidup.

Apa aku sudah cukup memprioritaskan diri sendiri? Apakah keputusan yang selama ini kuambil itu karena ketulusan atau karena ketakutan? Bagaimana kalau aku mencoba kembali?

Sembari menemukan jawaban dan menyembuhkan luka, aku memutuskan untuk mundur dari berbagai aktifitas dan rutinitas di luar pekerjaan utama. Aku tetap bekerja seperti biasa dilanjutkan kuliah pada sore hari. Ritme hidupku berubah dan secara tidak langsung memberiku ruang untuk berpikir serta mengenali diri sendiri lebih dalam.

Selama masa studi, aku mencoba banyak hal. Membuka diri untuk pengalaman baru. Mencoba memahami hubungan seperti apa yang kuinginkan dan kubutuhkan.

Uji coba yang kulakukan tidak semuanya berhasil, sebagian besar justru berakhir dengan ketidaknyamanan. Terutama ketika aku mencoba menjadi orang lain. Mengubah diri ternyata juga tidak serta merta membawaku pada apa yang aku butuhkan. Namun setidaknya, dari semua proses itu aku semakin mengenal diri sendiri. Aku jadi paham, Apa yang membuatku nyaman dan tidak nyaman, apa yang aku sukai dan tidak kusukai, terutama nilai-nilai apa yang penting dan bisa ku tolerir.

Aku mulai menyadari bahwa setiap perjumpaan dengan seseorang selalu memberikan pelajaran. Ada yang datang dengan kebahagian, ada pula yang meninggalkan luka. Namun keduanya, yang membantu proses aku mengenali diri sendiri. 

Menurutku, mungkin inilah salah satu keuntungan menjadi dewasa. Kita belajar melihat sebuah peristiwa dari berbagai sudut pandang, bukan hanya dari rasa kecewa atau sakit yang ditinggalkan.

Pada akhirnya, aku merasa ikhtiar yang kulakukan sebagai manusia telah sampai pada batasnya. Ada titik ketika aku tidak lagi tau apa yang harus dilakukan, dan justru disitulah aku sampai dan bertemu dengan kepasrahan.

Aku belajar pasrah, proses ini membuatku berdoa menjadi lebih tulus. Bukan lagi menuntut tentang hasil, melainkan memohon agar aku kuat menjalani prosesnya, diberikan jalan terbaik, dan ikhlas dengan yang sudah ditetapkan.

Karena semakin bertambahnya usia, aku memahami bahwa ada hal-hal yang memang ranahnya manusia untuk berusaha, dan ada hal-hal yang sepenuhnya adalah kehendak Allah.

Seberapa kuat pun manusia berusaha, pada akhirnya ridho Allah tetaplah yang utama.

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Operasi Sinusitis dan Konka Hipertropi

Koleksi Soal UKK 2017 - 2021

Proposal PTK Ubah Judul - PPG (TINGKAT KEAKTIFAN DAN PEMAHAMAN SISWA PADA PEMBELAJARAN JARAK JAUH)