Belajar dari Kemungkinan



Hidup tetap berjalan seperti biasa, menyembuhkan luka ternyata butuh waktu yang panjang, tidak selesai dalam hitungan minggu atau bulan. Kadang progressnya terasa maju, kadang mundur tanpa aba-aba.

Jika ada istilah hidup dengan mencoba dan berusaha, mungkin itu yang ku lakukan saat itu. Berusaha menjalani hidup dengan versi diri yang terbaik. Ada hari ketika aku merasa baik-baik saja, ada juga hari ketika semua hal terlihat salah.

Di tengah proses itu, aku memilih untuk terus bergerak. Bekerja lebih keras dari sebelumnya. Namun fokusnya berubah, bukan lagi sekedar menjalani hidup, tetapi bagaimana memberikan yang terbaik dan bermanfaat bagi orang lain.

Perlahan hidup mulai tertata. Karir berkembang, kondisi ekonomi membaik dan beberapa hal yang dulu hanya berani kubayangkan satu persatu mulai terwujud. Aku bisa berpergian ke tempat-tempat yang ingin ku kunjungi, bertemu dengan banyak orang hebat, dan menikmati berbagai pengalaman yang luar biasa. Hal-hal yang dulu terasa begitu jauh, perlahan seperti dimudahkan dan diberikan jalannya

Di masa itu, Pernikahan bukan lagi hal yang terlalu kupikirkan. Prioritas hidup bergeser ke banyak hal lain. Orang-orang di sekitar pun mulai jarang bertanya. Kalaupun ada yang bertanya, bisa dijawab dengan santai.

Hidup terasa mengalir dan baik-baik saja. 

Di masa tenang itu, pernah ada seorang laki-laki yang mencoba hadir dan menunjukkan ketertarikannya. Aku berpikir cukup keras karena kehadirannya mengusikku. Dia baik, seorang duda dengan seorang anak. Sejujurnya, aku nyaman dengan hidupku saat itu dan juga belum tahu seperti apa kriteria pendamping hidup yang sebenarnya. 

Selama ini kupikir ketakutanku hanya karena belum bertemu orang yang baik. Namun ketika dia hadir, mengapa aku masig belum mampu menerima?

Bersamaan dengan rasa itu, kuputuskan melakukan perjalanan dari Pangkalpinang ke Aceh. Berjam-jam di perjalanan memberiku ruang untuk berdialog dengan diri sendiri. Tentang keinginan, kebutuhan dan tujuan hidupku. Di pulau sabang tepatnya, saat duduk menghadap pemandangan Gua Sarang, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba membuka hati kembali. Memberi kesempatan kepada seseorang untuk masuk ke dalam hidupku.

Namun, selang beberapa minggu setelah kepulanganku, dan setelah aku memutuskan untuk membuka hati. Aku mendapat kabar, bahwa dia telah berpulang. 

Aku lama terdiam dan mencerna semua yang terjadi, bukan karena aku kehilangan dia.  Melainkan karena aku baru saja memberikan ruang pada sebuah kemungkinan, dan kemungkinan itu berakhir bahkan sebelum sempat dimulai.

Ada satu quote yang kutuliskan di masa itu:

“Hadiah terbaik adalah apa yang kamu miliki, dan takdir terbaik adalah apa yang sedang kamu jalani”

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Operasi Sinusitis dan Konka Hipertropi

Koleksi Soal UKK 2017 - 2021

Proposal PTK Ubah Judul - PPG (TINGKAT KEAKTIFAN DAN PEMAHAMAN SISWA PADA PEMBELAJARAN JARAK JAUH)