Menyadari Luka
Memilih untuk menjadi diri sendiri tidak serta merta menyelesaikan segala hal, ada berbagai peristiwa hidup yang tetap harus dijalani. Belakangan aku paham, kalau semuanya mungkin memang harus dilewati jika ingin bertumbuh.
Ada masa aku pernah bertemu seseorang yang membuatku berfikir mungkin ini orangnya. Kami bicara banyak hal, satu frekuensi jadi ngobrol nyambung. Keluarga juga sempat saling mengenal, dan membahas rencana pernikahan. Namun, semuanya berakhir tanpa kejelasan.
Beberapa waktu kemudian, aku menerima undangan pernikahan dari seorang teman. Saat melihat nama dan foto mempelai pria, aku terpaku dan diam cukup lama. Ternyata laki-laki yang bicara tentang pernikahan denganku kemarin adalah orang yang akan menikah dengannya. Setelah diusut ternyata dia melakukan itu ke beberapa wanita lainnya.
Beruntungnya aku, diberikan kesempatan healing langsung mengadu lewat perjalanan spiritual Umroh. Namun, rasanya manusia belum akan memahami alasan, mengapa perkara tersebut menimpanya. Sehingga harus bergumul dengan pikirannya sendiri.
Pengalaman kedua datang dengan cara yang lebih menyakitkan. Seseorang hadir tiba-tiba, sejak awal kehadirannya sudah membuatku curiga. Namun, disaat yang sama, orang-orang di sekitarku mengatakan mungkin aku terlalu waspada. Kejadiannya berlangsung begitu cepat tetapi dampaknya cukup besar.
Aku harus menjelaskan banyak hal kepada keluarga dan teman-teman, bahkan sampai berurusan dengan kepolisian. Ternyata terungkap bahwa identitas yang ia gunakan adalah kebohongan. Apa yang terlihat seperti perkenalan ternyata merupakan bagian dari sebuah modus penipuan. Kerugian materi dari perkara itu dapat diselesaikan. Namun, ternyata pengalaman tidak mengenakkan itu tanpa sadar meninggalkan luka yang dalam.
Setelah kejadian itu, aku menjadi jauh lebih tertutup dan berhati-hati ketika ingin memulai sebuah hubungan. Awalnya ku pikir semua baik-baik saja, bekerja dan menjalani rutinitas seperti biasa, tampak normal dari luar. Namun, setiap kali pembicaraan tentang pernikahan muncul, ada sesuatu yang bereaksi dalam diriku.
pernikahan menjadi isu sensitif, kadang berusaha menghindar, mengalihkan pembicaraan dan bisa saja emosi. Aku pikir kenapa semua orang repot dan bertanya, “kapan nikah?”. Perlahan perasaan itu berubah menjadi manifestasi pikiran, “pernikahan mungkin bukan untuk semua orang dan aku salah satunya”.
Awalnya itu terasa masuk akal, karena aku beranggapan itu sebuah keputusan rasional. Namun, jauh dalam hati ini, rasanya ada sesuatu yang salah. Kenapa pernikahan harus jadi isu yang membuatku tidak nyaman? Mengapa takut membuka diri, bahkan ketika tidak ada alasan yang jelas untuk merasa takut? Mengapa takut gagal, ketika belum ada hal yang dimulai?
Semua pertanyaan itu akhirnya membawaku ke ruang konseling, menemui psikiater dan psikolog. Harapannya satu, menemukan semua jawaban itu. Ternyata disanalah semuanya mulai terbuka. Hal yang selama ini aku anggap selesai ternyata belum benar-benar selesai. Pengalaman buruk yang selama ini kuanggap sudah berlalu, rupanya masih menempel lekat di tempat yang tidak kusadari.
Aku terbiasa mencari solusi sendiri, kalau ada masalah selesaikan atau kalau sedih nanti juga berlalu. Tanpa sadar, kebiasaan itu membuatku sering bertahan daripada merasakan. Tidak ada ruang untuk kecewa, takut atau berduka, karena pikirku hidup harus terus berjalan.
Perlahan aku belajar memahami diri sendiri, tentunya tidak dalam satu dua kali konsultasi dengan profesional bisa selesai. Ada banyak hal yang harus kupelajari, terima dan hadapi satu persatu.
Satu hal yang penting dan akhirnya ku akui adalah “Aku tidak baik-baik saja”, dan mengakui ini bukan tanda kelemahan. Bagiku disini proses penerimaan dan pemulihan dimulai.
Di titik ini, aku belum memahami semua luka yang kubawa. Aku juga belum sepenuhnya berdamai dengan berbagai hal yang terjadi. Namun setidaknya, aku tidak lagi berpura-pura bahwa luka itu tidak ada.
Aku mengakui keberadaannya, berjalan bersamanya dan perlahan belajar menyembuhkannya.

Comments
Post a Comment