Tentang Kebisaan dan Pandangan Orang Lain
Banyak hal yang terjadi ketika melewati masa kecil, remaja dan beranjak dewasa. Kehilangan Bapak mungkin jadi salah satu alasan kenapa anak kecil yang beranjak remaja ini belajar untuk tidak terlalu menyusahkan orang lain. Perlahan, itu menjadi kebiasaan yang terbawa hingga dewasa.
Waktu Bapak meninggal, aku ingat pernah ada perwakilan dari panti asuhan yang datang menawarkan agar kami tinggal disana. Sejujurnya waktu itu belum benar-benar mengerti maksudnya apa, tapi keputusan akhir tetap tinggal dirumah karena tidak mau jauh dari ibu dan saudara.
Rasanya, setiap remaja pasti punya banyak keinginan. Tapi, karena cukup sadar dengan kondisi ekonomi, ketika punya keinginan biasanya dipikirkan berkali-kali sebelum disampaikan ke ibu. Dan kalau ada masalah di luar, sebisa mungkin menyelesaikannya sendiri agar tidak menambah beban di rumah. Tanpa sadar, kebiasaan itu membentukku menjadi seorang yang sangat mandiri, dan jarang minta bantuan ke orang lain, sungkan lebih tepatnya.
Mungkin faktor itulah yang membuatku terbiasa memikirkan banyak hal sendiri. Jadi ketika menjalani hubungan, cenderung lebih tenang dan realistis. Tidak terlalu banyak berekspektasi atau terlarut dalam perasaan. Walaupun pada akhirnya, ada ujian juga disana. Tentang itu, mungkin aku ceritakan nanti.
Pernah ada laki-laki yang bilang kalau aku terlalu mandiri sehingga lelaki jadi takut mendekat. Katanya aku terlihat tenang dan seperti tidak membutuhkan laki-laki. Atau perkataan dari atasan yang masih kuingat sampai sekarang “perempuan jangan terlalu pintar nanti laki-laki takut”.
Rasanya kesal dan kecewa karena mereka hanya melihat sekarang tanpa tau proses seperti apa yang sudah kulalui. Disisi lain aku juga mempertanyakan, kenapa perempuan yang terlihat mandiri, tenang, dan unggul justru dianggap menakutkan bagi sebagian laki-laki.
Seluruh perkataan dan pengalaman itu, jujur saja membuatku mempertanyakan diri sendiri, Apa ada yang salah dengan caraku menjalani hidup? Apa aku terlalu mandiri ? dan Apa aku begitu sulit diterima. Sempat mencoba mengubah diri, mengecilkan diri mungkin bisa lebih diterima pikirku. Tapi semakin dijalani, semakin terasa kalau itu bukan diri sendiri.
Perlahan, seiring bertambahnya usia, aku mulai lebih memahami diri sendiri, apa nilai hidup yang kupegang dan yang sebenarnya aku inginkan. Akhirnya aku memilih untuk menjadi diriku sendiri dan tidak terus-menerus mengecilkan diri agar bisa diterima orang lain. Walaupun harus melewati banyak kegagalan, pada akhirnya aku bertemu dengan dengannya. Ketika pertama bertemu tidak ada ekspektasi besar, tidak juga menaruh banyak harapan. Aku hanya menjadi diri sendiri. Ternyata dia orang yang membawa ku sampai di titik ini.

Comments
Post a Comment